CINTAKU PADA BUAH HATI …


Buah hati. Apa yang terpikir darimu dengan istilah ini? Hirupan udara pertamanya di dunia mampu membuat seorang ibu meneteskan mutiara. Perasaan haru itu tak dapat diungkapkan dengan sebaris kalimat bahkan kata. Hanya ibu yang dapat merasakannya. Tidak ayah maupun dokter. Hanya ibu..

Remaja. Kini apa yang terpikir darimu tentang hal itu? Cinta monyet. Muda. Tawa. Ceria. Sebagian ada yang demikian. Dan terlihat membahagiakan. Terasa begitu hangat. Namun di sisi lain, bagaimana dengan kenakalan. Berontak. Tangis. Sakit hati. Rindu. Ingin dipeluk. Ingin dicinta. Orangtua..

Ya. Kata terakhir. Orang tua. Kata kunci utamanya adalah orangtua. Beribu-ribu bahkan berjuta-juta anak di seluruh dunia akan berubah rona wajahnya ketika dipertanyakan mengenai ‘orangtua’. Banyak jawaban berbeda yang akan keluar dari bibir mereka.

Untuk anak yang berlimpah akan kasih sayang, akan dengan bangga menyebut orang tuanya sebagai orang yang paling ia sayangi. Paling penting dalam hidupnya. Dan tak jarang disebutkan bahwa orangtuanyalah tujuan hidupnya.

Bagaimana dengan anak yang haus akan kasih sayang? Apa ia hanya diam? Bagaimana ketika ia melihat teman sebayanya mempertontonkan kebahagiaan keluarganya? Apa yang dirasakannya? Sakit. Sangat sakit. Bagai mimpi di siang bolong jika itu bisa terjadi pada keluarganya. Harapan memang masih bersisa meski sedikit. Hal yang paling diinginkan seorang anak hanya pelukan hangat dan tulus dari sang Bunda. Hanya itu. Namun meski hanya secuil permintaan, hal itu sudah dianggap berat untuk Ibu hiperaktif. Yang dipikirnya hanya pekerjaan yang menumpung di meja kantor.

Mereka mungkin lupa jika niat awalnya bekerja adalah untuk membesarkan buah hatinya agar dapat tumbuh dengan baik. Namun, kesibukan bersama teman sejawat dipikirnya lebih menyenangkan dibanding tinggal di rumah menunggu buah hati pulang dari sekolah. Dipikirnya lebih menyenangkan berkecimpung di dunia perekonomian dan bersama-sama mengejar pundi-pundi kehidupan, dibanding menciptakan makanan sehat, membelai rambut, dan bersanda gurau dengan hasil kandungan yang dulunya sangat ia jaga. Anak yang mengalaminya semakin merasa sosok orangtua sebenarnya telah mengkerut.

Beberapa anak mampu memakluminya. Namun banyak pula yang akhirnya melarikan diri dan lebih memilih sesamanya. Sesamanya sebagai anak yang ‘terbuang’. Lari sebagai pengecut yang tak mampu menatap dunia, ke kehidupan gelap yang mereka anggap sebagai tempat yang lebih damai dibanding tetap tinggal di rumah, menanti kedatangan orangtua yang tidak jelas. Hidup mereka pun semakin tak terkendali. Semua berjalan searah dengan perkembangan mereka. Hidup mereka bagaikan sebuah balon yang diterbangkan di langit. Terbang kemana saja terbawa angin. Dan hanya menunggu hingga kempes atau meletus dengan sendirinya. Di tengah perjalanan hidup mereka, mereka pun dianggap sebagai ‘sampah masyarakat’. Orang sekitarnya bahkan ironisnya, orangtuanya sendiri pun langsung melimpahkan semua kesalahan kepada mereka. Mereka semakin merasa serba salah. Hati mereka semakin rapuh dan hanya semakin memperburuk mental mereka dengan menjadi pemberontak. Padahal di lubuk hati yang terdalam, mereka hanya ingin diperhatikan. Ingin ada yang menoleh padanya. Ada yang menganggapnya penting. Ada yang mau mendengar semua ceritanya. Ada yang mau menerimanya apa adanya. Mereka ingin mengasihi dan dikasihi..Ironis rasanya jika mengingat semua itu disebabkan akan ketidakpedulian orangtua.

Berbeda dengan anak yang memiliki orangtua, sungguh lebih perih perasaan anak-anak ‘yatim piatu’. Mereka hanya dapat menatap bagaimana sebenarnya ayah dan ibu itu, tanpa pernah memilikinya. Bahkan mengimpikan hal tersebut pun jarang terjadi. Bagaimana pendapatmu?

Semua anak di dunia ini sangat membutuhkan perhatian orangtua. Apapun itu, bagi mereka, tak ada yang lebih membahagiakan selain pelukan hangat orangtua. Hanya membayangkannya saja, seluruh air mata dapat tumpah. Sungguh bahagianya jika semua orang memahami perannya masing-masing dan menjalaninya dengan hati ikhlas. Bagaimana pun, hidup ini hanya sesuatu yang fana. Dan nantinya pasti akan ada balasannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s