BANJIR DAN KELUARGAKU DI MAKASSAR


0601201303806012013029

Hujan masih mengguyur kota Makassar. Kini keluargaku seluruh keluargaku tampak tertidur pulas. Cucuku yang berusia 9 bulan juga kini sudah sangat terlelap. Kuingat tadi semalam pukul 2 hingga pagi suaranya melengking memecah keheningan lorongku yang kini hanya tersisa dua kepala keluarga. Kami berusaha mendiamkannya hingga pagi menjelang. Seandainya kami bisa menangis seperti Nizam..

Hari ini hari ketiga banjir menggenangi daerah di sekitar rumah kami. Perumnas Antang tepatnya blok 8. Rumahku terletak tepat di pinggir sawah. Beberapa hari yang lalu saat hujan tak hentinya mengguyur Makassar, terlihat jelas sawah di depan rumah kami sudah dipenuhi oleh air. Empat rumah sawah yang terletak berpisah hanya tinggal terlihat atap. beberapa tahun yang lalu setiap musim hujan awal tahun tiba, hal demikian merupakan pemandangan yang biasa. Namun, ternyata kali ini berbeda. Setelah meninggalkan rumah selama 4 jam untuk ujian hari itu, aku mendapati rumah sudah terendam air setinggi lutut orang dewasa.

05012013028
 Malam itu benar-benar apes. Baru 4 jam yang lalu kami mendapatkan musibah, kini kami harus bergelut dengan evakuasi seluruh barang-barang. Ya, tangan tanteku ‘salah posisi’ hingga terlihat bengkok setelah jatuh di teras rumah yang licin. Rasanya sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Aku hanya sempat menyimpan motor di daerah yang cukup tinggi lalu membantu sepupu dan bapakku mengangkat semua barang ke lantai 2. Beberapa sofa dan tempat tidur diganjal dengan batu merah hingga 5 susun, namun air masih juga semakin meninggi. Akhirnya kami memutuskan untuk menggantungnya dengan tali pada palang-palang jendela. Sumpah, berattt!

Kakak sepupuku akhirnya pulang dari kerja dan membawa kabar bahwa dua adik sepupuku terjebak di blok 10. Mereka belum kena banjir, tapi mereka tidak dapat meninggalkan rumah karena air sudah menggenangi hingga sebatas leher orang dewasa di daerah yang lebih rendah. Alhasil aku, tante, dan kakak sepupuku pun memutuskan untuk menumpang perahu karet yang disediakan oleh tim SAR untuk menyelamatkan dua bocah kecil di blok 10 itu.

Hingga pukul 1 dini hari setelah dibantu oleh keluarga lain, akhirnya keadaan mulai stabil. Barang sudah aman dari air. Baju yang kupakai ke kampus kini sudah terbasahi oleh peluh. Makanan sekedarnya yang sudah disiapkan tanteku di meja makan langsung diserbu dengan lahap. Kali ini kami semua makan sambil berdiri. Pukul 1 dini hari rumah kami akhirnya dipenuhi canda lagi setelah tadi cukup berkerut masalah evakuasi.

Hari kedua, berjalan sewajarnya, namun kini harus lebih kompromi karena banjir yang menggenangi rumah. Makan kini harus berdiri. Tidur di lantai dua harus bersempit-sempitan karena 12 orang harus tidur dalam ruangan 4×8 meter. Mandi dan buang air harus di rumah keluarga lain. Dan kami masih punya urusan di luar. Kebetulan aku juga masih masa ujian dan harus bekerja setelahnya hingga pukul 10 malam.

Sepulang dari kerja, kudapati air semakin menyurut. Sangat surut. Esok paginya kini air benar-benar surut. Rumah sudah kami bersihkan. Lumpur dan hewan ular yang mengganggu kami pun sudah hilang. Aku pun berangkat bekerja dengan hati yang cukup lega.

Pukul 9.45 malam, mama menelpon. Katanya air sudah sangat tinggi. Aku pun bergegas pulang dan mendapati rumah kami kini sudah setinggi pantat. Kami panik. Satu hal yang bisa dilakukan dengan tenaga 3 orang adalah berusaha sekeras mungkin mengevakuasi apa yang bisa dievakuasi. Hal yang lebih buruk terjadi. Listrik dipadamkan dan air hujan tidak berhenti turun dari langit. Dan tersiar kabar bahwa Bendungan Bili-bili saat itu dibuka. Tentu ini pertanda kami harus Siaga 1 dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Kami panik. Di rumah ada anak-anak, bayi, dan nenek dengan tangan yang patah. Semuanya sudah berpakaian siap untuk evakuasi bila diperlukan.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, suasana semakin gelap dengan langit yang sangat mendung. Beberapa pemuda kini ada di rumah kami membantu memindahkan semua barang ke rumah keluarga. Pakaian dan lain-lainnya aku masukkan ke kain apapun yang cukup besar lalu diikatkan keempat sisinya. Beberapa kali terdengar jeritang dari kakak sepupu yang membantuku. Kakinya berkali-kali disentuh ular dari dalam air. Semuanya kami lakukan dengan penerangan seadanya dari lilin dan senter. Setelahnya, motor pun kami bawa ke tempat yang lebih tinggi. Kali ini kami membutuhkan tim SAR. Jalanan sudah dipenuhi oleh air. Khawatir rasanya melewatinya, takut airnya masuk ke mesin. Malam itu lorong yang gelap dienuhi suara dari anggota SAR yang tak hentinya berteriak-teriak. Beberapa keluarga yang terisolir tampak sedang diselamatkan. Rasanya seperti sedang syuting film anaconda, film misteri, dan sebagainya!

Malam itu, pukul 3 kami akhirnya berkumpul di lantai 2. Tak ada yang dapat tidur. Aku dan beberapa sepupu terduduk di balkon rumah sambil menatap langit. Pakaian kami basah dan bau. Bau dari air banjir yang terbawa arus Bili-bili. Tangisan cucuku Nizam yang memecah keheningan malam dan angin yang berhembus ringan membuatku merinding dan semakin merasa sedih. Ya Allah.. maafkanlah segala dosa-dosa kami selama ini. Pasti banyak perbuatan kami yang membuat kami mengalami ini semua. Astaghfirullah al adzhim..!!

Gambar

 

2 thoughts on “BANJIR DAN KELUARGAKU DI MAKASSAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s