Lelaki Itu yang Akan Kubedah


imagesgfDoni berjalan menyusuri lorong fakultasnya lunglai menuju parkiran. Sesekali ia menekan tombol lampu jamnya. Pukul sebelas lewat dua puluh tiga. Matanya memutar melirik sekelilingnya. Hanya lampu lorong itu dan beberapa lampu taman yang menemaninya malam itu.  Rintik hujan sejak sore masih belum berhenti. Doni hendak kembali ke kosan melawan rintik malam itu.

Sontak bulu kuduknya berdiri ketika melihat sosok seseorang dengan badan sedikit membungkuk di depannya. Sosok seorang lelaki paruh baya. Tangannya memegang sapu dan sibuk mengumpulkan sampah bungkusan snack di hadapannya.

‘Ah, rupanya Dg. Baso..’ lirih Doni lega. Doni terus melanjutkan jalannya hingga semakin dekat dengan sosok yang telah dikenalnya akrab tiga hari belakangan itu.

“Belum pulang, pak?” tanya Doni

“Oh, belum, nak. Masih ada kerjaan” jawab Dg. Baso.

“Wah, bapak rajin sekali.. apa tidak ditunggu anak istri di rumah?”

“Mereka tahu, kok, saya gak akan kembali malam ini. Hehe..”

Hujan rintik berubah deras. ‘Gawat, aku rasa lebih baik menunggu sebentar lagi..’ desah Doni sedikit kecewa. Kini tubuhnya ia istirahatkan di bangku dekat ruang pegawai. Dg. Baso menyandarkan sapunya dan ikut duduk di samping Doni.

Doni meraih sekotak rokok di saku bajunya. Meraih satu dan menawarkannya pada lelaki kurus di sampingnya.

“Haha! Terima kasih, nak.” Tolaknya. Doni tersenyum kecil sambil mengernyit melihat tingkah aneh Dg. Baso. “Kegiatan organisasi, ya, Don?”

“Iya, pak. Maklum masih maba, jadi ikut aturan dari senior dulu. Haaa..” Doni mendesahkan napasnya yang penuh dengan asap rokok, “Padahal besok ada praktikum.”

“Wah, anak muda jaman sekarang tangguh juga. Urus organisasi sampai malam, paginya lanjut kuliah. Kamu harus jaga kesehatan kalau begitu!” Seru Dg. Baso. Matanya menerawang kosong ke langit-langit koridor meski bibirnya tersenyum penuh, “Aku harap anak-anakku juga setangguh itu..” lanjutnya lirih.

Doni ikut tersenyum. Ia ingat Dg.Baso memiliki tiga anak yang masih di sekolah dasar. Doni sudah biasa melihat pemandangan keluarga bahagia Dg. Baso di pagi hari. Tiga orang anak yang lincah berlari mengikuti ibunya, istri Dg.Baso. Dg.Baso akan muncul di belakang sambil memandangi anak-istrinya dengan senyum yang sangat lembut. Senyum layaknya seorang ayah dan suami yang setia melindungi keluarganya.

Istri Dg. Baso, Ibu Sumartini, berjualan di kantin fakultas. Setelah menitipkan barang jualannya, istrinya akan mengantar ketiga anaknya ke sekolah. Dg. Baso adalah pegawai yang bertugas membersihkan fakultas. Sosok lelaki itu sangat ramah sejauh yang dikenal Doni.

Hujan terus mengguyur kota Makassar. Sekali lagi Doni menekan tombol lampu jam tangannya. Tiga puluh menit telah berlalu dari kali terakhir ia menekannya.

“Wah, sepertinya aku harus pulang sekarang.” Doni berdiri dan membuang rokok ketiga di bibirnya yang menghitam. “Benar , bapak tidak pulang sekarang?” tanya Doni lagi pada Dg. Baso.

“Tidak, kamu saja yang pulang..” ucapnya tersenyum.

“Oke, deh! Jangan sampai sakit, ya pak!” teriak Doni menarik topi jaketnya berlari meninggalkan Dg.Baso di koridor dingin.

“Kamu juga..” Dg. Baso tersenyum sambil membersihkan bekas rokok Doni di bangku yang baru didudukinya.

***

Pukul 7.48 am, suara batuk Doni cukup keras memecah keheningan ruangan praktikum anatomi.

“Hei, Doni kamu tidak apa-apa?” tanya seorang temannya.

Doni hanya terus batuk tanpa menjawab. Matanya berkonsentrasi dengan penjelasan dari asisten.

Doni berjalan memasuki ruangan anatomi. Kali ini gilirannya untuk membedah mayat. Plastik pembungkus mayat dibuka diikuti penjelasan dari asisten.

Detak jantung Doni berdetak tiba-tiba kencang. Nafasnya mendesah tak teratur. Matanya seakan mau keluar ketika plastik dibuka. Sosok mayat dengan kulit telah menghitam bak terbakar di depannya dapat ia kenali. ‘Dg. Baso?!’

Entah apakah aroma formalin dan bahan kimia di ruangan atau karena Doni memang dalam kondisi tidak enak badan atau kenyataan bahwa mayat di depannya yang siap untuk dibedah adalah Dg. Baso yang membuat Doni sangat mual dan sangat ingin muntah. Kepalanya yang tadi sudah berat kini semakin berat. Tubuhnya oleng dan akhirnya collapse.

***

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Amel

Doni bangkit dan melihat sekelilingnya.

“Ya, ampun, aku gak tahu kamu cemen banget, Don! Haha!” pingkal Reno sambil menepuk punggung Doni yang masih bengong.

Doni berdiri lalu meninggalkan ruang organisasinya. Kakinya semakin cepat menuju kantin fakultas. Rasa ingin tahunya sangat besar kali ini. Matanya terbelalak melihat tempat jualan Ibu Sumartini diisi oleh orang lain. ‘A-apa yang terjadi?!’

Amel berlari mengejar Doni, “Ada apa denganmu?” seru Amel ngos-ngosan

“Apa yang terjadi…?” tanya Doni dengan suara sangat lirih kepada Amel. Amel tertegun.

***

Doni berjalan menyusuri lorong fakultasnya. Ia menekan tombol jamnya. Kini telah menunjukkan pukul sebelah lewat dua puluh. Ia tertegun. Langkahnya terhenti di depan kantor pegawai fakultas. Seminggu yang lalu ia melihat seorang paruh baya dengan tubuh kurus membersihkan sampah di depannya. Bulu kuduknya sesekali bergidik saat mengingat pengalaman pagi di ruang anatomi.

Langkahnya berlanjut hingga akhirnya tubuhnya terpaku duduk di bangku yang sama seminggu lalu. Lampu yang temaram dan redup membuat koridor semakin senyap, kosong, dan dingin. Doni diam. Matanya menengok bangku di sampingnya. Sepuntung rokok baru tergeletak di bangku itu. Doni meraihnya. Membuangnya di tempat sampah.

Nafasnya menghela dalam. Berulang-ulang. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Apa yang terjadi. Tak seorang pun mengerti apa yang ditanyakan Doni mengenai mayat di ruang anatomi. Tidak pula ada yang mengetahui identitasnya. Satu-satunya yang Doni tahu adalah lelaki kurus itu bernama Dg.Baso. Ia punya tiga anak yang diharapkannya akan setangguh anak muda jaman sekarang. Ia punya istri bernama Sumartini. Ia orang yang ramah. Ia sangat mencintai keluarganya… Kali ini Doni menangis sesenggukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s