SANG PENGUNTIT DAN ANAKNYA


This story just based on the German Writer said.. “Obtaining happiness is as simple as catching a bird. We just have to be as sweet as we possibly can with it. We have to make sure that the bird feels free enough, so that it wont think about flying away.”

Motor tua hitam Dini melaju di jalanan yang cukup gemerlap. Hari ini seperti biasa ia tidak sendiri. Kali ini ada Nunung di boncengannya. Langit sangat cerah malam itu. Perasaan kedua gadis itu sama cerahnya. Malam ini mereka berniat berkunjung ke pameran komputer terbesar di kota Makassar.

“Nunung, kamu belum pernah ke sana, kan?” Tanya Dini sedikit menolehkan kepalanya ke belakang sambil terus mengendari motor bututnya.

“Iyalah, aku, kan masih baru di kota ini.”

Tahun ini adalah tahun pertama mereka berdua di Unhas. Nunung yang berasal dari SMA di luar Makassar itu tentunya masih asing dengan lingkungan barunya. Dini kebetulan tinggal dekat dengan Nunung sehingga ritual pulang bareng pun sudah menjadi hal baru yang menyenangkan bagi mereka. Malam ini baru saja mereka sampai di rumah. Dini dan Nunung hanya sempat mengganti baju kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju kota.

“Din, kamu, kok bisa diijinkan keluar malam?”

“Itu karena aku sudah janji pulang sebelum jam 9,” jawab Dini santai, “Oh, iya, mati kita kalau penyakit motor ini kambuh di sana.”

Motor terus melaju hingga akhirnya sampai di sebuah gedung yang cukup luas dan besar. Letaknya tepat dipinggir laut Pantai Losari. Di sepanjang pagarnya kokoh berkibar bendera-bendera promosi pameran malam itu. Wow, tampaknya tahun ini lagi-lagi semeriah tahun sebelumnya. Batin Dini. Ia memarkirkan motor hitamnya di parkiran tepat di samping sebuah pohon hias di samping pagar. Cukup lama ia memutar-mutar motornya hanya untuk mencari tempat parkir yang pas.

“Ya ampun, cari parkiran saja butuh 10 menit. Oke Nunung waktu kita tinggal 30 menit.” Seru Dini sambil mengecek jam merah di tangannya. Tepat menunjukkan pukul 8.00 pm. Keduanya kemudian melangkah menuju pintu utama gedung pameran.

Setelah puas berkeliling gedung pameran dan membeli beberapa barang yang dibutuhkan, Dini dan Nunung kemudian memutuskan untuk pulang. Keduanya berjalan beriringan menuju lapangan parkir.

Namun, sepuluh menit telah berlalu sejak kedua gadis itu berdiri di depan motor hitam kesayangan Dini.

“Din, gimana, nih? Apa kita tanya satpamnya saja?”

“Iya, tapi pak satpamnya gak muncul-muncul, nih..” seru Dini dengan intonasi cukup panik. Tangan dan matanya sibuk menengak-nengok di tanah sekitar motor. Kunci motor DIni tidak ia temukan sejak tadi. Kenapa aku bisa seceroboh ini! Teriak Dini dalam hati. Nunung yang juga membantunya mencoba tidak panik dan terus mencari kunci yang hilang. “Nunung, bagaimana ini?! Sudah hampir pukul 9..bisa jadi orang rumah khawatir..” Dini semakin panik setelah melirik jamnya.

Tiba-tiba terdengar suara dari tas kecil DIni. “Assalamualaikum, nak, kamu sudah ada di mana?” tanya suara di seberang telepon. Suara bapak Dini.

“A..aku baru mau pulang ke rumah, pak. Ini sudah ada di parkiran.” Jawab Dini gugup.

“Nggak ada masalah, kan?”

“Iya, pak. Sudah, ya, assalamualaikum” Dini segera menutup teleponnya. Ia tidak ingin ada pertanyaan lagi dari bapaknya yang membuat ia semakin berbohong. Ia dan Nunung kembali mencari di sekeliling motor ketika kembali setelah beberapa menit kemudian handphone Dini kembali berdering. Ya ampun, dari Bapak!

“Ya, assalamualaikum, pak.” Kata Dini dengan suara bergumam panik. Tiba-tiba tangannya yang sejak tadi menggerogoti tas kecilnya menangkap sebuah tali tipis persis gantungan kunci motornya. “Alhamdulillah!!! Iya pak, sekarang Dini pulang, ya! Sontak Dini berseru.

Kali ini motor kembali melaju dengan suara bising mesin tua seperti biasa. Dini dan Nunung sangat lega setelah kejadian bodoh yang baru terjadi. Tas kecil Dini memang terdiri atas dua kantung yang disambungkan dengan jahitan penuh, membuat Dini tidak menyadari bahwa kunci dimasukkannya pada jahitan menyerupai kantung itu.

Angin Pantai Losari bertiup sepoi-sepoi membelai wajah dua dara itu. Situasi cukup membuat otak berputar selama beberapa menit tadi membuat mereka merasa sedikit lapar. Tidak afdol rasanya jika pergi jauh ke alun-alun kota Makassar tanpa menyantap kuliner khas daerah pesisir itu. Sebelum memutuskan untuk makan Dini terlebih dahulu menghubungi ayahnya meminta izin untuk pulang lebih terlambat.

Setelah lama berpikir tempat makan yang sesuai, Dini pun langsung memutar motornya ke sebuah lahan kosong dengan penerangan sangat minim. Hanya lampu-lampu dua stand jualan pisang epe yang mangkal di pinggir pantai losari yang terlihat menggodanya. Meski menakutkan pasti angin di sana lebih kencang. Batin Dini membayangkan nikmatnya duduk di pinggir pantai sambil mencicipi pisang epe panas dengan sepoian angin. Nunung yang memang anak baru Makassar hanya angguk-angguk mengikuti kehendak Dini.

Baru beberapa meter motor memasuki lahan, sebuah motor lain menyalip. Dan tebak siapa orang itu?

“Bapak?!”

“Mau apa masuk kesini?” tanya Bapak mengerutkan dahinya.

“Kami Cuma mau makan di sana pak?” lirih Dini polos menunjukkan stand pisang epe. Batinnya terus bertanya-tanya mengapa Bapaknya bisa sampai di tempat itu.

“Jangan di sini, Nak, ikut Bapak saja. Mau makan pisang epe, kan?”

Kali ini Dini mengekor di belakang motor bapaknya. Terus melaju semakin menjauh dari pinggir pantai losari. Rasa kecewa meliputi hatinya. Tidak ada angin pinggir pantai, tidak ada khas-khasnya dari pantai losari lagi. Sayonara Pantai Losari!!!

Motor Bapak berhenti di sebuah pertigaan jalan tepat di depan Perpustakaan Umum. Bertengger beberapa stand pisang epe di bawah terangnya lampu jalan dengan riuhnya kendaraan yang melewati tempat itu. Yah, namanya saja pinggir jalan.

“Yah, di sini kan aman, kamu makannya di sini saja, ya? Ini tempat bapak dan mamak pacaran dulu, hehe” cengir bapak. “Ini uang buat makan.” Sambil mengeluarkan uang 35ribuan. “Kalau begitu Bapak pulang dulu. Nanti kalau sudah sampai di depan rumah Nunung telpon Bapak biar dijemput. Assalamualaikum..” Bapak Dini memang tidak pernah membiarkan anaknya melaju di jalanan menuju rumah sendiri karena alasan banyaknya pemuda mabuk di atas jam 9 malam

“Iya, pak. Waalaikumsalam..”

Dini mengamati sampai motor bapaknya menghilang dari kejauhan, kemudian duduk di samping Nunung sambil terdiam mengamati lembaran uang 5ribuan yang diterima dari ayahnya. Dini mengingat jelas bapaknya masih menggunakan seragam kantor. Seragam kantor yang dikenakannya sejak jam 7 pagi selama 21 tahun silam. Sekarang sudah jam 9.45 malam dan sejak tadi dia terus berpura-pura seakan berada di rumah. Aktingnya hebat. Sejak tadi pasti ia menguntit kami dari belakang hanya untuk mengawasi keamanan kami. Well, I could say that little creepy and sweet at the same time.

Ah, Bapak tipe satu ini memang aneh. Tidak marah tidak juga memaksa kehendaknya. Orang lain pasti langsung menyeret anaknya pulang kalau diposisikan di situasi tadi. Bapak malah membawa kami ke tempat yang lebih aman plus diberi tambahan uang. Benar-benar tipe bapak yang menomorsatukan perasaan anak dan membuat anaknya merasa cukup bebas.

Hm,,sekarang aku percaya sebuah tulisan dari penulis Jerman bahwa Memperoleh kebahagiaan sesederhana menangkap seekor burung. Kita hanya harus menjadi selembut mungkin. Kita harus yakin bahwa burung itu sudah merasa cukup bebas sehingga ia tidak akan punya pikiran untuk terbang meninggalkan kita.

“Dini, apa ada baiknya kita pulang aja, yah? Aku nggak enak sama bapakmu.”

“Enggak papa, kok. Aku yakin dia malah senang kalau kita bersenang-senang di sini.” Senyum Dini tenang. Rasanya pengen pulang cepat buat meluk bapak…

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s